.Sistem Produksi Toyota.

Analisis terhadap aspek budaya

Prinsip 9 : Kembangkan pemimpin yang benar-benar memahami pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain.

  1. Kembangkan pemimpin dari dalam organisasi, dan bukan membeli mereka dari luar organisasi
  2. Jangan memandang pekerjaan seorang pemimpin hanya sekedar menyelesaikan tugas dan memiliki keterampilan mengelola orang. Pemimpin harus menjadi panutan dalam filosofi perusahaan dan cara melakukan bisnis.
  3. Seorang pemimpin yang baik harus memahami pekerjaan sehari-hari secara detil sehingga dia dapat menjadi guru terbaik untuk filosofi perusahaan anda.

Seorang pemimpin harus memberikan dampak yang luar biasa pada sebuah perusahaan. Bagaimana caranya seorang pemimpin bisa membawa budaya perubahan yang luar biasa untuk menyembuhkan atau memulihkan sebuah perusahaan yang sedang sakit. Pemimpin yang harus dikembangkan adalah pemimpin dari bagian perusahaan juga yang sudah lama dan mengerti benar sejarah dan budaya dari Toyota ini dari hari ke hari. Hal ini agar dapat menghilangkan konsep Muri (ketidakseimbangan) ditempat kerja pada bagian eksekutif.

Seorang pemimpin harus mempunyai elemen kritis dan budaya dari Genchi Genbutsu yang artinya memahami secara mendalam situasi sebenarnya secara detail dan para pemimpin harus menunjukkan kemampuan dan mengerti bagaimana pekerjaan diselesaikan di tingkat lantai pabrik Toyota. Selain itu, ajaran tentang kepemimpinan penting lainnya dari Toyota Way adalah upaya yang dilakukan untuk mendukung budaya yang menciptakan lingkungan organisasi pembelajar. Dengan istilah Deming, Toyota menggunakan ”kepatuhan pada tujuan” diseluruh elemen organisasi yang memberi dasar bagi kepemimpinan yang konsisten dan positif serta lingkungan untuk belajar.

Pandangan seorang pemimpin Toyota terhadap Toyota Production System, yaitu sistem manajemen operasi untuk mencapai sasaran yaitu kualitas terbaik, biaya terendah, dan lead time terpendek dengan cara mendorong orang menuju ke sasaran.

Penerapan Genchi Genbutsu dapat dengan mudah diikuti pada lantai produksi, hal ini juga berlaku pada eksekutif dan manajer yang harus melihat langsung, dan memahami benar situasi sebenarnya di tingkat pengerjaan. Inti utama dari filosofi Toyota adalah bahwa budaya harus mendukung orang dalam pekerjaannya. Manajemen harus memperlihatkan komitmennya pada kualitas tiap hari. Budaya yang ingin diciptakan adalah mendahulukan kualitas dan mendahulukan keselamatan kerja. Pada intinya, budaya yang ingin dibangun adalah kembangkan pemimpin yang benar-benar memahami pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Prinsip 14 : Menjadi suatu organisasi pembelajar melalui refleksi diri tanpa kompromi (hansei) dan peningkatan berkesinambungan (kaizen).

  1. Setelah anda mendapatkan proses yang stabil, gunakan alat-alat peningkatan berkesinambungan untuk mencari akar penyebab inefisiensi dan terapkan cara penanggulan dengan efektif.
  2. Rancang proses yang hampir tidak memerlukan persediaan. Hal ini akan membuat waktu dan sumber daya yang disia-sia kan menjadi kelihatan jelas bagi semua orang. Ketika pemborosan terlihat, biarkan karyawan menggunakan proses peningkatan berkesinambungan (kaizen) untuk menghilangkannya.
  3. Lindungi pengetahuan dasar organisasi dengan mengembangkan personil yang tetap, promosi secara perlahan, dan sistem suksesi yang sangat hati-hati.
  4. Gunakan hansei (refleksi diri) pada tahap-tahap penting dan kembangkan jalan keluar untuk menghindari kesalahan yang sama.
  5. Belajar dengan menstandarisasikan praktik-praktik terbaik dan tidak menemukan ulang hal yang sama dengan setiap proyek baru dan setiap manajer baru.

TPS dirancang untuk mendorong anggota kelompok untuk berpikir dan belajar dan berkembang. Toyota Way melibatkan pembelajaran organisasi dari kesalahannya, menentukan akar penyebab dari permasalahan, menyediakan tindakan penanggulangan yang efektif, memberdayakan karyawan untuk mengimplementasikan tindakan tersebut, dan mempunyai proses untuk mentransfer pengetahuan baru kepada orang yang tepat. Prinsip yang utama adalah bagaimana mengidentifikasi akar penyebab masalah dan mengembangkan tindakan penanggulangan.

Kaizen, pada intinya merupakan sebuah pembelajaran sikap dan pola pikir dari semua pemimpin dan karyawan, sebuah sikap dari refleksi diri sendiri bahkan kritik pada diri sendiri, sebuah keinginan yang membara untuk berkembang. Sedangkan Hansei, yang berarti refleksi diri, tanggung jawab, dan pembelajaran organisasi. Dengan toyota mempunyai budaya terus berefleksi diri, maka Toyota akan mempunyai kesempatan untuk melihatnya tumbuh dan berkembang dalam cara baru. Jika seseorang mengakui telah melakukan kesalahan, mereka akan belajar dari kesalahan itu.

Analisis perbedaan budaya pendukung tersebut di Jepang dan di Indonesia

Perbedaan budaya pendukung indonesia dan Jepang adalah:

Di Jepang, pemimpin benar-benar memahami pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain. Sedangkan di Indonesia, sifat pemimpin tidak murni seperti ini. Masih banyak perusahaan-perusahaan yang juga memikirkan masalh pertumbuhan politik, sehingga terkontaminasi jalur pikirannya. Pada dasarnya tiap pemimpin seharusnya dipilih berdasarkan kemampuan dan memahami pekerjaan yang akan dipimpinnya, tetapi di Indonesia kurang sifat mengajarkan kepada para bawahannya. Seperti salah satu budaya genchi genbutsu, tidak semua pegawai akan melihat masalah secara detail dan menyeluruh. Masih banyak karyawan yang mempunyai komitmen yang kurang terhadap perusahaan dan cenderung ”cuek” dan tidak terlalu peduli terhadap profit perusahaan, karena kebanyakan pekerja di Indonesia bekerja hanya untuk uang. Dimana ada uang lebih, disitulah para pekerja akan bekerja lebih giat. Dimana ada iming-imingan uang, disitulah para pekerja akan berebut untuk menjadi posisi yang paling tinggi demi mendapatkan uang yang lebih banyak.

Selain itu, di jepang sangatlah menjunjung tinggi 2 prioritas, yaitu mendahulukan kualitas dan mendahulukan keselamatan kerja. Budaya prioritas kualitas dan keselamatan kerja inilah yang dijunjung tinggi oleh perusahaan di Jepang. Sedikit berbeda dengan di Indonesia, hanya faktor kualitas saja yang jauh lebih diutamakan, sedangkan masalah keselamatan dan kesehatan kerja kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dengan belum optimalnya pemakaian Alat Pelindung Diri pada para operator dan pekerja, yang dapat disebabkan pemberian pengetahuan oleh perusahaan pada pekerja juga sangat kurang, sehingga banyak pekerja yang ”menyepelekan” penggunaan alat-alat keselamatan kerja.

Perbedaan yang lain dapat dilihat dari budaya hansei (refleksi diri), yaitu untuk jujur mengakui kesalahan/kelemahan dan memperbaiki kelemahan. Para pekerja di Indonesia alangkah baiknya apabila lebih banyak membahas kelemahan dari pada keberhasilan, sehingga dapat dijadikan sebagai proses belajar untuk perbaiki diri dengan tujuan peningkatan yang lebih baik dan berkesinambungan. Para pekerja di Jepang juga merupakan seseorang yang Hard-working dan pantang menyerah. Disitu pula terdapat perbedaan dengan para pekerja di Indonesia yang bekerja untuk uang, sehingga kurang memperhatikan kualitas.

Analisis bagaimana proses / mekanisme perubahan budaya yang dibutuhkan

Memang sulit dalam mengubah budaya yang sudah terlanjur berkembang pada sebuah oraganisasi, akan tetapi bukanlah hal yang tidak mungkin. Budaya akan dapat berubah apabila dijadikan sebuah “kebiasaan” dengan komitmen yang tinggi. Beberapa mekanisme yang harus dilakukan untuk merubah budaya menjadi lebih baik adalah :

  1. Merubah orientasi dari “Money oriented” menjadi “productivity oriented”. Sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan profit perusahaan. Mulai berfokus pada bagaimana meningkatkan ukuran peningkatan yang agresif bagi perusahaan.
  2. Menciptakan organisasi pembelajar. Hal ini memang membutuhkan waktu yang lama dan upaya yang sangat besar. Dimulai dengan menerapkan prinsip siklus pembelajaran Plan-Do-Check-Action, memunculkan masalah ke permukaan, menciptakan cara penggunaan masalah, dan mengevaluasi hasil. Organisasi pembelajar yang efektif akan terusmelakukan pemerikasaan dan memastikan semua sudah bekerja dengan baik dan sesuai prosedur, dan menciptakan proses agar lebih mengalir
  3. Hard-working dan pantang menyerah. Tanamkan sifat-sifat ini pada setiap individu pekerja maka budaya untuk terus melakukan perbaikan akan tercipta. Dalam bahasa jepangnya biasa disebut Ganbattedo your best – lakukan yang terbaik.
  4. Mulai membudayakan untuk berpikir bagaimana cara untuk me-reduce cost atau biaya, untuk mendapatkan profit yang lebih besar. Bagaimana cara kita berpikir untuk menghasilkan biaya yang seminimum mungkin dan meminimasi segala jenis pemborosan (waste).
  5. Memberikan pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan pekerja, dengan membudayakan pemakaian alat pelindung diri untuk para pekerja. Bagaimana perusahaan memberi perhatian lebih terhadap keselamatan dan kesehatan para pekerja
  6. Membudayakan untuk terjun secara langsung dan melihat permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada sistem produksi, jangan hanya berpangku pada teori dan hasil yang diperoleh dari pengolahan data.

13 thoughts on “.Sistem Produksi Toyota.

    • telaaaat semua telat,,gw baru tau lean di tugas toyota terakhir inii..huaa..sebaaal..tau gitu lean aja..mengasyikkan..hahaha..

    • makasih mas..iya anak TI juga..itu tugas, tapi saya banyak ngarang2 diambil dari sumber buku the toyota way..hehehe,,

  1. Aktualnya tidak seindah aslinya. Kaizen adalah tugas yg sangat berat untuk operator yg digaji minimum kebutuhan hidup. Toyota menurut pendapat saya perusahaan yang kaku, feodal, dan bisa dicermati R&Dnya bukan di Jepang lho, tapi di Amerika dan Jerman…Jadi kadang kita harus kritis sama tulisan/buku yg kita baca. Kadang cuman cari nama aja….

    • ini kan keadaan idealny mas.. ga salah donk klo seharusnya semua perusahaan di indonesia punya prinsip2 manajemen klayak toyota way ini..syukur2 bisa meningkatkan performansi perusahaan..hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s