.Kode HS, SITC, dan BEC.

Kode Pengelompokan Barang Bea Cukai

Harmonized System (HS)

HS adalah berupa deskripsi dan pengkodean sistem yang harmoni dari tatanama bea cukai. HS merupakan sistem yang sudah terstandardisasi secara Internasional, baik deskripsi nama maupun nomor atau kodenya, yang digunakan untuk mengklasifikasi perdagangan produk atau barang yang dikembangkan dan diatur oleh World Customs Organization (WCO), yang sebelumnya disebut Customs Co-operation Council, sebuah organisasi lembaga antar-pemerintahan yang independen dengan lebih dari 170 negara anggota yang berpusat di Brussels, Belgium.

Kode HS mempunyai 6 digit nomor. Empat digit pertama disebut heading, dua digit berikutnya disebut subheading. Negara-negara yang telah memakai kode HS ini tidak diperbolehkan untuk mengubah deskripsi atau keterangan nama yang berhubungan dengan heading dan subheading dengan cara apapun. Selain itu, mengubah kode pada empat atau enam digit kode HS pun dilarang. Hal inilah yang akan tetap membuat kode HS seimbang dan harmonis.

Negara individual dapat memperpanjang kode HS menjadi delapan atau sepuluh digit untuk keperluan yang beragam, misal untuk maksud atau tujuan kode ekspor. Lebih dari 200 negara, beragam dan berkoalisi ekonomi, melakukan lebih dari 98% dari perdagangan dunia, menggunakan sistem peng-kode-an HS untuk:

  1. Bea dan cukai
  2. Kumpulan statistik perdagangan internasional
  3. Kumpulan pajak internal
  4. Negosiasi perdagangan
  5. Statistic dan bea transportasi
  6. Pengawasan terhadap barang-barang yang dikendalikan (misalnya, narkotika, senjata kimia, barang berbahaya, dan lain-lain)
  7. Lingkup berbagai macam pengawasan dan prosedur, termasuk beban resiko, teknologi informasi dan pendukungnya.

Kode HS ini telah di revisi tiap tahunnya. Jadi, sangatlah penting untuk menyesuaikan kode yang berhubungan dengan perdagangan ini dengan perubahan kode beberapa tahun lalu. Kode HS terdiri dari berjumlah kurang lebih 5000 deskripsi artikel atau produk yang terdiri dari heading dan sub heading, diatur dalam 97 bab, dan di kelompokkan dalam 21 golongan.

Standard International Trade Classification (SITC)

SITC merupakan suatu pengklasifikasian barang-barang yang digunakan untuk mengelompokkan ekspor dan impor dari suatu negara yang dapat dibandingkan dengan negara dan tahun yang berbeda. Sistem pengklasifikasian ini dibuat oleh United Nations (UN). Klasifikasi berdasarkan kode SITC, saat ini telah di revisi sebanyak tiga kali untuk menjadi sebuah standar untuk negara-negara di dunia. Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2006.

Untuk memenuhi angka statistic perdagangan internasional di seluruh barang/komoditi yang masuk dalam perdagangan Internasional. Pengelompokkan komoditi berdasarkan kode SITC adalah berdasarkan:

  1. material yang digunakan dalam produksi
  2. tahap proses produksi
  3. praktek dan penggunaan komoditi di pasar perdagangan
  4. tingkat kepentingan komoditi di perdagangan internasional
  5. perubahan teknologi

Broad Economic Categories (BEC)

BEC merupakan pengklasifikasian kode barang dengan 3 digit angka, yang dikelompokkan berdasarkan kegunaan utama barang berdasarkan daya angkut komoditi tersebut. Seringkali kode BEC ini digunakan untuk analisis umum dalam perekonomian pada data perdagangan komoditi Internasional. Sistem kode BEC ditetapkan dengan merujuk kepada sistem kode SITC, yang telah dijelaskan sebelumnya.

BEC yang original diterbitkan pada tahun 1971, dan direvisi pada tahun 1976, 1986, dan yang terakhir pada tahun 1988. Pada tahun 2007, revisi kode BEC keempat sedang dalam pembicaraan, termasuk kemungkinan perpanjangan kode BEC agar dapat mengikutsertakan jasa perdagangan. Berikut kategori pengelompokkan kode BEC adalah sebagai berikut.

  1. BEC-1: Makanan dan minuman
  2. BEC-2: Persediaan industri
  3. BEC-3: Bahan bakar dan minyak pelumas
  4. BEC-4: Barang-barang besar (kecuali peralatan transportasi) dan aksesoris serta bagiannya.
  5. BEC-5: Peralatan Transportasi dan aksesoris serta bagiannya.
  6. BEC-6: Barang-barang konsumsi
  7. BEC-7: Barang-barang lain yang tidak termasuk pada kode BEC manapun.

Cheers,

Enjoy your life to the fullest.. 😀

.Indeks Harga dengan Formula Laspeyres dan Paasche.

Indeks Harga

Menurut http://unstats.un.org/, indeks harga merupakan sebuah rataan dari perubahan harga yang proporsional pada suatu barang atau jasa tertentu antara dua periode waktu. Perubahan harga dan kuantitas menunjuk pada barang-barang atau jasa yang bersifat individual yang jelas berbeda satu sama lainnya dalam sebuah kelompok poduk yang serupa. Kualitas yang berbeda pada jenis produk yang sama harus diperlakukan berbeda pula sebagai jenis barang atau jasa yang terpisah sesuai dengan konteks permasalahan.

Menurut http://encyclopedia2.thefreedictionary.com, indeks harga atau “Price Indexes” merupakan suatu ukuran yang dapat menggambarkan perubahan dalam satu set harga, yang terdiri dari data seri berurutan sehingga dapat dilakukan perbandingan nilai antar dua periode atau tempat yang akan menunjukkan perubahan dalam harga antar periode atau perbedaan dalam harga antar tempat dalam satuan waktu tertentu. Indeks harga yang dimaksud dalam perhitungan ini adalah perbandingan perubahan harga dari satu periode ke periode berikutnya dalam suatu kurun atau range waktu tertentu. Sehingga perubahan harga tersebut dapat dianalisis apakah naik atau turun dari periode sebelumnya.

Indeks harga sangat penting untuk praktisi ekonomi, pemerintah, dan public umum. Indeks harga terdiri dari instrument yang mengukur harga pergerakan relatif dan inflasi. Indeks harga juga dapat untuk mengukur level harga ekonomi, dan pada tingkat mana terjadi sebuah fenomena inflasi. Informasi-informasi ini sangat berguna untuk bank sentral di suatu negara sebagaimana bank sentral akan menentukan kebijakan moneter. Indeks harga juga dapat digunakan untuk mengukur statistik ekonomi yang lain, misalnya Gross Domestik Bruto (GDP).

Perhitungan Indeks Harga

Dalam menghitung indeks harga, para pakar ekonomi merumuskan formula indeks harga yang berbeda-beda metode dan cara perhitungannya. Berikut tabel yang berisikan formula-formula yang dirumuskan oleh para pakar ekonomi dalam perhitungan indeks harga.

Dalam perhitungan pencarian indeks harga, metode yang paling sering dan umum untuk digunakan adalah metode Laspeyres (Etienne Laspeyres) dan metode Paasche (Hermann Paasche). Pada kedua metode tersebut, didefinisikanlah sebuah rataan harga (unit value) atau volume relatif yang mempunyai bobot masing-masing yang berasal dari nilai individu tiap barang, yang selanjutnya nilai unit value pada suatu periode tertentu dibandingkan dengan periode berikutnya apakah terjadi kenaikan atau penurunan.

Pada dasarnya perhitungan Indeks harga menurut formula metode Laspeyres dan metode Paasche tidak jauh berbeda satu sama lain. Letak perbedaannya adalah terletak pada metode pembobotan nilai dari tiap komoditi. Berdasarkan formula Paasche, bobot dikalkulasikan pada tiap periode tertentu, misalnya, pada bulan atau triwulan tertentu. Oleh sebab itu, perubahan yang dihasilkan pada perhitungan akan mengikuti perubahan bobotnya, dalam hal ini bobot tiap periode akan berubah, dan nilai indeks harganya pun akan mengikuti perubahan bobot tersebut. Sehingga indeks harga ini cenderung akan meredam perubahan harga dikarenakan ada pengaruh perubahan bobot tersebut.

Sedangkan berdasarkan formula Laspeyres, perhitungang pembobotan dibuat berdasarkan bobot pada tahun tertentu yang dijadikan dasar (base year). Oleh sebab itu, indeks tidak akan terpengaruhi untuk mengikuti perubahan bobot dari periode ke periode, karena bobot yang digunakan adalah bobot tahun tertentu yang menjadi dasar. Sehingga perhitungan indeks harga yang menggunakan formula Laspeyres ini cenderung akan bernilai lebih tinggi dibandingkan hasil perhitungan indeks harga dengan formula Paasche.

Pada perhitungan indeks harga, nilai atau value di peroleh dari:

vij = pij x qij

Keterangan :

vij = nilai ekspor/impor dari produk ke- i pada periode ke- j.

pij = harga (unit value) ekspor/impor dari produk ke- i pada periode ke- j.

qij = jumlah (volume) ekspor/impor dari produk ke- i pada periode ke- j.

Formula Laspeyres

Indeks harga Laspeyres (Lp) di definisikan sebagai rataan aritmatik yang mempunyai bobot terhadap harga relatif yang menggunakan bobot nilai pada periode yang menjadi tahun dasar (misal pada tahun 2000) sebagai bobotnya. Berikut rumus atau formula untuk menghitung indeks harga dengan menggunakan metode Laspeyres.

Formula menghitung indeks harga dengan menggunakan metode Laspeyres

Dari rumus diatas terdapat rumus utama yaitu perkalian antara indeks pertumbuhan harga dengan bobot dari tiap komoditi pada tahun dasar, yaitu tahun tertentu yang telah ditetapkan. Indeks pertumbuhan harga ini dapat dilihat dari rumus pit/pio, yaitu nilai pertumbuhan harga dibandingkan dengan periode sebelumnya. Selanjutnya nilai pertumbuhan harga itu akan dikalikan bobot dari nilai masing-masing komoditi pada tahun dasarnya saja.

Misalnya, diambil tahun 2000 menjadi tahun dasar, maka yang dihitung hanya bobot pada tahun 2000 saja yang dihitung dan akan dijadikan nilai bobot untuk tahun berikutnya. Sehingga nilai indeks harga yang dihasilkan tidak mengikuti perubahan bobot yang seharusnya terjadi tiap tahun, karena bobot yang digunakan adalah tetap, yaitu menggunakan bobot pada tahun dasarnya saja. Nilai indeks harga yang dihasilkanpun lebih smooth gejolaknya, sehingga dapat memudahkan analisis pertumbuhannya.

Formula Laspeyres juga dapat digunakan untuk menghitung indeks volume (Lq). Pertumbuhan (growth) yang dilihat adalah nilai volume/kuantitas/berat bersih dari komoditi ekspor atau impor tersebut. Tujuan perhitungannya juga tidak berbeda dengan perhitungan indeks harga, yaitu agar dapat diketahui pertumbuhan volume riil atau nilai indeks yang sebenarnya di lapangan.

Rumus untuk menghitung indeks volume dengan menggunakan formula Laspeyres adalah sebagai berikut.

Formula menghitung indeks volume dengan menggunakan formula Laspeyres

Periode waktu yang menentukan bobot untuk indeks harga disebut periode dasar, yang dijadikan tahun acuan untuk menjadi bobot.  Seringkali periode tersebut bertepatan dengan referensi periode yang akan dijadikan perbandingan. Rumus atau formula ini dapat di subtitusikan dengan rumus yang telah dijelaskan diatas, dimana vj sama dengan pj x qj.

Formula Paasche

Indeks harga Paasche (Pp) berbanding terbalik dengan formula Laspeyres, formula Paasche menggunakan nilai terakhir pada tiap periode tertentu tersebut untuk menjadi bobot pada perhitungan. Formula Paasche lebih berupa rataan harmonik yang relatif dangan perubahan nilai suatu komoditi di tiap periodenya. Berikut rumus atau formula untuk menghitung indeks harga dengan menggunakan metode Paasche.

Formula menghitung indeks harga dengan menggunakan metode Paasche

Dari rumus diatas terdapat rumus utama yaitu perkalian antara indeks pertumbuhan harga dengan bobot dari tiap komoditi pada periode tertentu dan tidak terdapat periode dasar yang menjadi acuan. Indeks pertumbuhan harga ini dapat dilihat dari rumus pt/p0, yaitu nilai pertumbuhan harga dibandingkan dengan periode sebelumnya. Selanjutnya nilai pertumbuhan harga itu akan dikalikan bobot dari nilai masing-masing komoditi di tiap tahunnya.

Misalnya, terdapat data dari tahun 2000-2005, maka indeks pertumbuhan harga tiap tahun akan dikalikan dengan hasil pembobotan nilai komoditi tersebut terhadap nilai total komoditi tersebut tiap tahunnya. Indeks pertumbuhan (pt/po) pada tahun 2001 akan dikalikan dengan bobot nilai suatu komoditi pada tahun 2001 itu juga, tidak ada tahun yang menjadi acuannya. Jadi perhitungan pembobotan dihitung tiap periodenya dan dikalikan dengan indeks pertumbuhan harga pada masing-masing periode tersebut. Dengan formula Paasche ini, nilai indeks harga yang dihasilkan akan lebih detail mengikuti pertumbuhan nilai yang dibobotkan tersebut, sehingga gejolak kenaikan atau penurunan angka indeks harga akan lebih terlihat mengikuti perkembangan nilai total dari komoditi tersebut.

Formula Paasche juga dapat digunakan untuk menghitung indeks volume (Pq). Pertumbuhan (growth) yang dilihat adalah nilai volume/kuantitas/berat bersih dari komoditi ekspor atau impor tersebut. Tujuan perhitungannya juga tidak berbeda dengan perhitungan indeks harga, yaitu agar dapat diketahui pertumbuhan volume riil atau nilai indeks yang sebenarnya di lapangan.

Rumus untuk menghitung indeks volume dengan menggunakan formula Paasche adalah sebagai berikut.

Formula menghitung indeks volume dengan menggunakan formula Paasche

Bobot yang dihasilkan oleh formula Paasche ini berbeda tiap periodenya. Bobot ini dilihat dari nilai dari komoditi tersebut dibandingkan dengan nilai total komoditi pada periode tersebut. Rumus atau formula ini dapat di subtitusikan dengan rumus yang telah dijelaskan diatas, dimana vj sama dengan pj x qj.

Woww panjang juga.. demikianlah sedikit ilmu tentang perhitungan indeks harga yang dapat digunakan dalam perhitungan nilai kenaikan ekspor impor dengan base indeks harga.. Semoga bermanfaaat..

Cheers,

Life your live to the fullest..

😀

.Penjadwalan-Schedulling.

Baker (1974) mengatakan bahwa penjadwalan merupakan alokasi dari sumber daya terhadap waktu untuk menghasilkan sebuah kumpulan pekerjaan. Penjadwalan dibutuhkan untuk memproduksi order dengan pengalokasian sumber daya yang tepat, seperti mesin yang digunakan, jumlah operator yang bekerja, urutan pengerjaan part, dan kebutuhan material. Dengan pengaturan penjadwalan yang efektif dan efisien, perusahaan akan dapat memenuhi order tepat pada due date serta kualitas yang telah ditentukan.

Penjadwalan diperlukan ketika beberapa pekerjaan harus diproses pada suatu mesin tertentu yang tidak bisa memproses lebih dari satu pekerjaan pada saat yang sama. Penjadwalan yang baik akan memaksimumkan efektivitas pemanfaatan setiap sumber daya yang ada, sehingga penjadwalan merupakan kegiatan yang penting dalam perencanaan dan pengendalian produksi. Tahap perencanaan dan tahap implementasi dari kegiatan penjadwalan merupakan masalah yang kompleks.

Bedworth et al. (1987) mengidentifikasi beberapa tujuan dari aktivitas penjadwalan, yaitu yang pertama adalah meningkatkan utilisasi penggunaan sumber daya, atau dengan kata lain mengurangi waktu tungu dari sumber daya tersebut, sehingga total waktu proses dapat berkurang dan produktivitasnya dapat meningkat. Kedua, mengurangi work-in-process (barang setengah jadi), yaitu mengurangi rata-rata jumlah pekerjaan yang menunggu dalam antrian proses ketika sumber daya yang ada masih mengerjakan tugas lain, dan yang ketiga, mengurangi keterlambatan, yaitu menjamin pemenuhan due date. Setiap pekerjaan mempunyai due date masing-masing dan terdapat penalti apabila pekerjaan tersebut selesai setelah due date seharusnya. sehingga akan meminimasi biaya keterlambatan.

Permasalahan penjadwalan yang sebenarnya biasanya sangat kompleks, sehingga biasanya tidak disusun solusi yang memenuhi ketiga tujuan di atas. Terdapat berbagai jenis aturan dan algoritma dalam menjadwalkan produksi. Akan tetapi tidak ada algoritma terbaik yang dapat menghasilkan solusi optimal dalam menyusun penjadwalan produksi. Sehingga biasanya algoritma penjadwalan disusun berdasarkan sistem permasalahan di dunia nyata dan memenuhi sejumlah batasan-batasan yang ada.

Penelitian Rahmawati (2009) membahas mengenai pengembangan algoritma penjadwalan dengan menentukan ukuran batch atau pembagian batch produksi pada tiap order konsumen yang dapat meminimumkan banyaknya persedian barang setengah jadi pada gudang WIP dengan meminimasi total actual flow time, dengan berdasarkan pada pendekatan algoritma Ras (2002) dalam menentukan ukuran dan jumlah batch tersebut. Pada penelitian ini, pengembangan algoritma penjadwalan yang dilakukan tidak mempertimbangkan tahap insersi (penambahan) jadwal, apabila terdapat permintaan yang baru masuk ke dalam perusahaan. Selain itu, jenis mesin yang digunakan juga mesin tunggal karena pengujian data hanya dilakukan pada satu sel mesin tertentu yang tidak mencakup pemilihan jumlah mesin.

Kondisi common due date dapat diartikan kondisi order yang akan dikerjakan mempunyai due date yang sama. Pada kenyataan praktek di lapangan, banyak perusahaan yang mengalami kondisi order pesanan yang akan dikerjakan mempunyai due date yang berbeda-beda. Kondisi order dengan due date yang berbeda-beda ini dinamakan kasus multi due date. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, maka dapat dilihat terdapat peluang penelitian dengan melakukan penjadwalan batch pada job shop dengan kelompok mesin parallel yang mempertimbangkan due date yang berbeda-beda untuk tiap produknya (multi due date), dan dapat dilakukan insersi (penambahan) jadwal, apabila terdapat permintaan yang baru masuk ke dalam perusahaan. Kriteria performansi yang digunakan adalah dengan meminimasi total actual flow time.

Cheers,

Enjoy your life 😀

.Sarjana Teknik Industri ITB.

ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN…..

28 Agustus 2009 pukul 15.30

pengumuman kelulusan sidang sarjana saya diumumkan dengan nilai tugas sarjana A seminar A sehingga nilai tugas akhir A.. ya ALLAH terimakasihterimakasih..alhamdulillah.. puji syukur bangeet.. undescribeable..unbelieveable..unforgettable.. 🙂

berikut sebuah kata pengantar ucapan terima kasih saya kepada orang-orang sekitar saya yang selalu men-support dimana pun saya berada.. terima kasih terima kasih..

.Kata Pengantar.

Segala puji bagi Allah SWT saya panjatkan didalam hati yang terdalam atas rahmat, karunia, petunjuk, dan tuntunan-Nya yang telah diberikan kepada saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. Sebuah tugas besar sarjana yang telah memberikan banyak pelajaran, baik pelajaran akademik maupun pelajaran kehidupan yang sangat rugi untuk disia-siakan. Perjuangan tugas sarjana ini hanya merupakan sebuah perjalanan kecil yang singgah di hidup saya. Masih banyak petualangan-petualangan lain diluar kehidupan sana.

Mungkin tidak hanya pada output saya melihat dari sebuah tugas sarjana. Proses merupakan hal yang terpenting dalam hal ini. Banyak keluhan, kesalahan, kebimbangan, ketelodoran, kemalasan yang saya buat. Akan tetapi hal inilah yang membuat saya banyak belajar, banyak menghargai, banyak mensyukuri, dan banyak belajar untuk ikhlas dalam mengerjakan apapun dalam kehidupan. Banyak sekali jalan tak terarah dan sangat berliku yang saya lalui. Akan tetapi dengan segala kebesaran-Nya, selalu ada sebuah jalan kecil dengan sebongkah harapan yang besar untuk dapat melanjutkan perjalanan singkat saya ini.

Terima kasih yang tak bisa saya ungkapkan betapa besarnya kepada kedua orang tua saya, Papa dan Mama, serta Adik yang selalu ada di hati saya, menghibur saya, menyayangi saya, mendukung saya, dan selalu membuat hati saya tersenyum untuk selalu bersyukur kepada-Nya, karena telah memberikan anugerah dengan memiliki Papa, Mama dan Alvin di hidup saya. Love you all more and more.

Terima kasih juga sangat besar saya ucapkan kepada dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Abdul Hakim Halim, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan arah dan saran kepada saya dalam proses penyelesaian tugas sarjana ini. Terima kasih untuk kesabaran, kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar dan akan belajar terus. Terima kasih juga saya ucapkan kepada dosen penguji Bapak Andi Cakravastia dan Bapak Sukoyo yang sudah memberikan saran, kritik, dan masukan yang membangun dalam penulisan tugas sarjana ini.

Terima kasih kepada Bapak Endang yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian tugas sarjana ini di PT. Stallion, Bapak Joko yang selalu saya buat repot dan dengan sabar membimbing, menjelaskan dan menyediakan semua data yang saya butuhkan. Terima kasih juga pada Bapak Sugeng, Bapak Ruskandar, yang telah menjelaskan banyak hal mengenai perusahaan ini kepada saya.

Terima kasih kepada sahabat saya Izki Aldrin Iswarna, Wisnu Eka Prawira, dan Ringgandini Anggitasari, terima kasih atas waktu, teladan, pelajaran, kesabaran, dan semuanya yang bisa membuat saya tambah dewasa dan mengerti arti kehidupan dan persahabatan itu sendiri. Terima kasih Bun untuk semuanya, still need you. Terima kasih kepada Asrininda Ferialdy, Dwi Arryma Niza, Inggita Prasasya, dan Hertyasti Pradita yang selalu menanyakan progres perkembangan TA saya dan tidak henti-hentinya memberikan dukungan kepada saya. Terima kasih kepada Dwi Hutapea, Sindy Allrani, Elisa Julietta, Putri Rine Anggraini, Gitaditya Witono, Dita Ayu Handari, teman berkeluh kesah, teman belajar yang menyebut dirinya kelompok belajar opor, meskipun saya menjadi anak baru, tapi saya merasa sangat diterima dan sangat amat nyaman di share house. I love you all my best friends, best i ever had.

Terima kasih kepada keluarga besar LSP 2005, tempat dimana saya bisa belajar, tertawa, mengeluh, bersenang-senang, bahkan tempat saya melarikan diri. Terima kasih kepada Fira Tanujaya yang memberikan ilham coding gantt chart yang sangat luar biasa, Krisjanuardi Aditomo sebagai seorang event organizer yang sangat handal dalam menangani semuanya, Irra Nur Hegwisi yang sangat amat bernyali dengan pulang kerumah naik motor meskipun itu tengah malam, Irwan Hernawan yang sangat berbakat menjadi orang sukses di kemudian hari, Bayu Panji Permono yang selalu menjadi teman seperjuangan fasttrack dan seperjuangan TA di stallion, Hardian Prabianto teman berantem yang sangat seru dan sangat jenius, dan memberikan ilham ke”optimal”an kepada saya yang sangat berarti, Gitaditya Witono yang saya kagumi dengan semua keunikan pemikirannya, Tendy Saktyaji yang sangat mengerti atas kelambatan saya dalam mengerjakan tugas, Alfie Novriansyah Zairul dengan semua bunyi-bunyian yang masuk ke telinga saya, Ivan Kristianto Singgih yang saya percayai akan menjadi seorang dosen yang akan dicintai oleh semua muridnya kelak, teman seperjuangan fast track, TA, Gana Respati yang menjadi inspirasi saya, seorang wanita yang tangguh dan telah membuat mata saya terbuka dalam belajar banyak hal untuk dapat menghargai hidup ini, Arviani Manahera yang meskipun semua orang mengatakan freak, tetapi bisa jadi wanita karir yang sukses dan mandiri, Nawaf Abdullah yang menjadi seorang teman yang sangat baik dan bisa dipercaya, dan Elisa Julietta Sirait yang mempunyai suara indah dan telinga yang bersedia saya limpahkan cerita-cerita tidak penting yang terjadi dikehidupan saya. Terima kasih juga untuk keluarga besar LSP 2003, 2004, 2006, Mas Iis, Mas Wisnu untuk ilmu ”merge” yang diberikan, serta tidak lupa kepada semua Dosen LSP yang sangat amat memfasilitasi kami, asistan LSP dalam mengejar cita-cita sarjananya. Terima kasih.

Terima kasih kepada Tim Basket Putri MTI, Santi Setyaningsih, Sekar Arrum, Sinta, Anindita Septadiani, Agnes Felicia, Audi Rachma, Henny Triana, Arlene Khrisnadewi, Tanya Sosromihardjo, Andani Agniputri, Aliya Paramitha, Dhanistha Sidhikara, Arfi Jayanti, Nurhartati Subarkah, Imaniar Satwika, Pratiwi Karim, Stephanie Amanda Lie, Nadya Natalia, Made, Annelis Ashita, yang telah memberi saya kesempatan belajar banyak hal dalam menjalani kehidupan lain selain akademik di dunia perkuliahan ini. Terima kasih juga untuk pelatih Edward Mulianto, Aji Wibowo, dan Tim Basket Putra MTI. Terima kasih juga kepada Tim Futsal Putri MTI, dan Tim Voli Putri MTI, I am proud to be part of the team.

Terima kasih kepada teman-teman TI 2005 yang selalu mengisi hari-hari saya dalam 4 tahun masa perkuliahan, Noviana, Shelly Wijaya, Mack Stanly, Didit Tri Rahardian, Edwin Kocil, Reza Aldi, Raden Nur Dias Muhammad, Reza Rizki Tri Putra, Abdullah Alaydrus, Mochammad Sandy, Zulmy Ikhsan Wiharsya, Wahyu Ajiprabowo, Primaghany, Reza Rizki Muttaqien, Galang Perdana Ananto, Reza Ardian, Sahat Martua, Daniel Sanjaya, dan semua TI 2005 yang terlalu banyak untuk di sebutkan. Terima kasih, terima kasih atas 4 tahun yang tidak akan saya lupakan dan akan selalu saya kenang di hidup saya. Terima kasih kepada teman-teman MTI, tempat belajar, bermain, berorganisasi, berinteraksi dan semuanya. Terimakasih untuk teman-teman TI 2002 sampai TI 2007.

Terima kasih kepada teman-teman di Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB, yang lagi-lagi telah memberi pandangan dan pemikiran lain dalam hidup saya, membuka mata saya bahwa dunia tidak sesempit itu. Terima kasih kepada Rudy Nasuha yang telah memperkenalkan kepada saya dunia ini, Shana Fatina seorang inspirasi saya dari SMA dan menjerumuskan saya ke dunia Teknik Industri dan, Yarri Prima Andistra, Pradipta Kameshwara, Panca Yudha Kurniawan, Jufri Sinurat, Daniel Aritonang, dan semua yang ada di kabinet, meskipun saya baru sebentar mengenal kalian, saya yakin kalian semua akan menjadi orang-orang yang hebat suatu saat.

Terima kasih kepada sahabat-sahabat saya di SMP dan SMA, Tito Husein Batubara buat semua curhat dan nasihat via YM-nya, Widy Krisna Dewi, Fitri Septi Anggraini, Diana Andarini, Handika Prasetya, Dyah Ayuningtyas, Tommy Raharja, Muhammad Rusydi, Janur Primaningsari, Rahma Evasari, Genazis Wikanta, Anggara Gilang Dwiputra, Veramytha Diah Utari, Muhammad Yoesoef, Anindita Triandari, Oktarinda Rahasya. Kalian semua tetap ada di hati saya, kapanpun dimanapun selalu.

Rully, Kak Lely, yang secara langsung maupun tidak langsung banyak membantu dalam penyelesaian tugas sarjana ini. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan secara eksplisit dalam tulisan ini, saya bukanlah seseorang tanpa adanya kalian semua. Saya sadar akan ketidaksempurnaan tugas sarjana ini, tetapi saya berharap dapat memberikan sesuatu yang insyaAllah dapat berguna dan bisa memberi manfaat.

Bandung, Agustus 2009

Silvia Rahmawati

.Sistem Produksi Toyota.

Analisis terhadap aspek budaya

Prinsip 9 : Kembangkan pemimpin yang benar-benar memahami pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain.

  1. Kembangkan pemimpin dari dalam organisasi, dan bukan membeli mereka dari luar organisasi
  2. Jangan memandang pekerjaan seorang pemimpin hanya sekedar menyelesaikan tugas dan memiliki keterampilan mengelola orang. Pemimpin harus menjadi panutan dalam filosofi perusahaan dan cara melakukan bisnis.
  3. Seorang pemimpin yang baik harus memahami pekerjaan sehari-hari secara detil sehingga dia dapat menjadi guru terbaik untuk filosofi perusahaan anda.

Seorang pemimpin harus memberikan dampak yang luar biasa pada sebuah perusahaan. Bagaimana caranya seorang pemimpin bisa membawa budaya perubahan yang luar biasa untuk menyembuhkan atau memulihkan sebuah perusahaan yang sedang sakit. Pemimpin yang harus dikembangkan adalah pemimpin dari bagian perusahaan juga yang sudah lama dan mengerti benar sejarah dan budaya dari Toyota ini dari hari ke hari. Hal ini agar dapat menghilangkan konsep Muri (ketidakseimbangan) ditempat kerja pada bagian eksekutif.

Seorang pemimpin harus mempunyai elemen kritis dan budaya dari Genchi Genbutsu yang artinya memahami secara mendalam situasi sebenarnya secara detail dan para pemimpin harus menunjukkan kemampuan dan mengerti bagaimana pekerjaan diselesaikan di tingkat lantai pabrik Toyota. Selain itu, ajaran tentang kepemimpinan penting lainnya dari Toyota Way adalah upaya yang dilakukan untuk mendukung budaya yang menciptakan lingkungan organisasi pembelajar. Dengan istilah Deming, Toyota menggunakan ”kepatuhan pada tujuan” diseluruh elemen organisasi yang memberi dasar bagi kepemimpinan yang konsisten dan positif serta lingkungan untuk belajar.

Pandangan seorang pemimpin Toyota terhadap Toyota Production System, yaitu sistem manajemen operasi untuk mencapai sasaran yaitu kualitas terbaik, biaya terendah, dan lead time terpendek dengan cara mendorong orang menuju ke sasaran.

Penerapan Genchi Genbutsu dapat dengan mudah diikuti pada lantai produksi, hal ini juga berlaku pada eksekutif dan manajer yang harus melihat langsung, dan memahami benar situasi sebenarnya di tingkat pengerjaan. Inti utama dari filosofi Toyota adalah bahwa budaya harus mendukung orang dalam pekerjaannya. Manajemen harus memperlihatkan komitmennya pada kualitas tiap hari. Budaya yang ingin diciptakan adalah mendahulukan kualitas dan mendahulukan keselamatan kerja. Pada intinya, budaya yang ingin dibangun adalah kembangkan pemimpin yang benar-benar memahami pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Prinsip 14 : Menjadi suatu organisasi pembelajar melalui refleksi diri tanpa kompromi (hansei) dan peningkatan berkesinambungan (kaizen).

  1. Setelah anda mendapatkan proses yang stabil, gunakan alat-alat peningkatan berkesinambungan untuk mencari akar penyebab inefisiensi dan terapkan cara penanggulan dengan efektif.
  2. Rancang proses yang hampir tidak memerlukan persediaan. Hal ini akan membuat waktu dan sumber daya yang disia-sia kan menjadi kelihatan jelas bagi semua orang. Ketika pemborosan terlihat, biarkan karyawan menggunakan proses peningkatan berkesinambungan (kaizen) untuk menghilangkannya.
  3. Lindungi pengetahuan dasar organisasi dengan mengembangkan personil yang tetap, promosi secara perlahan, dan sistem suksesi yang sangat hati-hati.
  4. Gunakan hansei (refleksi diri) pada tahap-tahap penting dan kembangkan jalan keluar untuk menghindari kesalahan yang sama.
  5. Belajar dengan menstandarisasikan praktik-praktik terbaik dan tidak menemukan ulang hal yang sama dengan setiap proyek baru dan setiap manajer baru.

TPS dirancang untuk mendorong anggota kelompok untuk berpikir dan belajar dan berkembang. Toyota Way melibatkan pembelajaran organisasi dari kesalahannya, menentukan akar penyebab dari permasalahan, menyediakan tindakan penanggulangan yang efektif, memberdayakan karyawan untuk mengimplementasikan tindakan tersebut, dan mempunyai proses untuk mentransfer pengetahuan baru kepada orang yang tepat. Prinsip yang utama adalah bagaimana mengidentifikasi akar penyebab masalah dan mengembangkan tindakan penanggulangan.

Kaizen, pada intinya merupakan sebuah pembelajaran sikap dan pola pikir dari semua pemimpin dan karyawan, sebuah sikap dari refleksi diri sendiri bahkan kritik pada diri sendiri, sebuah keinginan yang membara untuk berkembang. Sedangkan Hansei, yang berarti refleksi diri, tanggung jawab, dan pembelajaran organisasi. Dengan toyota mempunyai budaya terus berefleksi diri, maka Toyota akan mempunyai kesempatan untuk melihatnya tumbuh dan berkembang dalam cara baru. Jika seseorang mengakui telah melakukan kesalahan, mereka akan belajar dari kesalahan itu.

Analisis perbedaan budaya pendukung tersebut di Jepang dan di Indonesia

Perbedaan budaya pendukung indonesia dan Jepang adalah:

Di Jepang, pemimpin benar-benar memahami pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain. Sedangkan di Indonesia, sifat pemimpin tidak murni seperti ini. Masih banyak perusahaan-perusahaan yang juga memikirkan masalh pertumbuhan politik, sehingga terkontaminasi jalur pikirannya. Pada dasarnya tiap pemimpin seharusnya dipilih berdasarkan kemampuan dan memahami pekerjaan yang akan dipimpinnya, tetapi di Indonesia kurang sifat mengajarkan kepada para bawahannya. Seperti salah satu budaya genchi genbutsu, tidak semua pegawai akan melihat masalah secara detail dan menyeluruh. Masih banyak karyawan yang mempunyai komitmen yang kurang terhadap perusahaan dan cenderung ”cuek” dan tidak terlalu peduli terhadap profit perusahaan, karena kebanyakan pekerja di Indonesia bekerja hanya untuk uang. Dimana ada uang lebih, disitulah para pekerja akan bekerja lebih giat. Dimana ada iming-imingan uang, disitulah para pekerja akan berebut untuk menjadi posisi yang paling tinggi demi mendapatkan uang yang lebih banyak.

Selain itu, di jepang sangatlah menjunjung tinggi 2 prioritas, yaitu mendahulukan kualitas dan mendahulukan keselamatan kerja. Budaya prioritas kualitas dan keselamatan kerja inilah yang dijunjung tinggi oleh perusahaan di Jepang. Sedikit berbeda dengan di Indonesia, hanya faktor kualitas saja yang jauh lebih diutamakan, sedangkan masalah keselamatan dan kesehatan kerja kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dengan belum optimalnya pemakaian Alat Pelindung Diri pada para operator dan pekerja, yang dapat disebabkan pemberian pengetahuan oleh perusahaan pada pekerja juga sangat kurang, sehingga banyak pekerja yang ”menyepelekan” penggunaan alat-alat keselamatan kerja.

Perbedaan yang lain dapat dilihat dari budaya hansei (refleksi diri), yaitu untuk jujur mengakui kesalahan/kelemahan dan memperbaiki kelemahan. Para pekerja di Indonesia alangkah baiknya apabila lebih banyak membahas kelemahan dari pada keberhasilan, sehingga dapat dijadikan sebagai proses belajar untuk perbaiki diri dengan tujuan peningkatan yang lebih baik dan berkesinambungan. Para pekerja di Jepang juga merupakan seseorang yang Hard-working dan pantang menyerah. Disitu pula terdapat perbedaan dengan para pekerja di Indonesia yang bekerja untuk uang, sehingga kurang memperhatikan kualitas.

Analisis bagaimana proses / mekanisme perubahan budaya yang dibutuhkan

Memang sulit dalam mengubah budaya yang sudah terlanjur berkembang pada sebuah oraganisasi, akan tetapi bukanlah hal yang tidak mungkin. Budaya akan dapat berubah apabila dijadikan sebuah “kebiasaan” dengan komitmen yang tinggi. Beberapa mekanisme yang harus dilakukan untuk merubah budaya menjadi lebih baik adalah :

  1. Merubah orientasi dari “Money oriented” menjadi “productivity oriented”. Sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan profit perusahaan. Mulai berfokus pada bagaimana meningkatkan ukuran peningkatan yang agresif bagi perusahaan.
  2. Menciptakan organisasi pembelajar. Hal ini memang membutuhkan waktu yang lama dan upaya yang sangat besar. Dimulai dengan menerapkan prinsip siklus pembelajaran Plan-Do-Check-Action, memunculkan masalah ke permukaan, menciptakan cara penggunaan masalah, dan mengevaluasi hasil. Organisasi pembelajar yang efektif akan terusmelakukan pemerikasaan dan memastikan semua sudah bekerja dengan baik dan sesuai prosedur, dan menciptakan proses agar lebih mengalir
  3. Hard-working dan pantang menyerah. Tanamkan sifat-sifat ini pada setiap individu pekerja maka budaya untuk terus melakukan perbaikan akan tercipta. Dalam bahasa jepangnya biasa disebut Ganbattedo your best – lakukan yang terbaik.
  4. Mulai membudayakan untuk berpikir bagaimana cara untuk me-reduce cost atau biaya, untuk mendapatkan profit yang lebih besar. Bagaimana cara kita berpikir untuk menghasilkan biaya yang seminimum mungkin dan meminimasi segala jenis pemborosan (waste).
  5. Memberikan pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan pekerja, dengan membudayakan pemakaian alat pelindung diri untuk para pekerja. Bagaimana perusahaan memberi perhatian lebih terhadap keselamatan dan kesehatan para pekerja
  6. Membudayakan untuk terjun secara langsung dan melihat permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada sistem produksi, jangan hanya berpangku pada teori dan hasil yang diperoleh dari pengolahan data.